background

BERITA

UNHI Diskusikan Peran Hindu dalam Konservasi Lingkungan


Image

SENAT Fakultas Ilmu Agama Seni dan Budaya UNHI Denpasar menggelar seminar nasional bertajuk ‘Peran Hindu Dalam Konservasi Lingkungan,’. Seminar ini menghadirkan narasumber Bupati Klungkung yang diwakili Kepala DLH Klungkung, AA Ngurah Kirana, Dosen Kimia Undiksa, I Wayan Suja yang juga penulis buku sains Weda dan Antropolog, Ngurah Suryawan, Rabu (3/7) kemarin di aula Rektorat UNHI.

Membuka seminar, Rektor UNHI, Prof. Dr. drh Made Damriyasa, M.S menyebutkan bahwa seminar tentang Peran Hindu dalam Konservasi Lingkungan sangat penting, yang mana nantinya mahasiswa bias mengetahui apa yang harus dilakukan terhadap lingkungan sesuai ajaran agama Hindu.

“Saya berharap dari seminar ini, mahasiswa memiliki perhatian penting terhadap kondisi lingkungan saat ini,” harap Prof. Damriyasa. Ditambahkan, seminar bertajuk lingkungan tersebut sangat sejalan dengan program Gubernur Bali, yang memiliki visi Nangun Sat Kerti Loka Bali. Dikatakan lagi, agar out put dari seminar bisa dijadikan praktik langkah nyata baik sekala dan niskala, mengingat Hindu sendiri telah mewariskan banyak kearifan local dalam hal penyelamatan lingkungan Bali.

Moderator seminar I Gusti Agung Paramita, S.Ag, M.Si yang juga dosen Filsafat UNHI, mengawali seminar dengan mengungkapkan bahwa masyarakat Bali secara umum mengalami peningkatan dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan. Menurutnya ritual agama di Bali sangat semarak. Bahkan pengeluaran umat Hindu di Bali khususnya untuk upacara ritual sangat tinggi.

Jika ini dijadikan indikator ketaatan umat dalam beragama, tentu sangat baik. Tetapi di balik data ini, ada data lain, misalnya tentang pencemaran pantai dan sungai-sungai di Bali. Tidak hanya itu, alih fungsi lahan capai ratusan hektar. Data terbaru, Bali dianggap akan mengalami krisis air di tahun 2025.

“Walau aktivitas ritual keagamaan mengalami peningkatan pengeluarannya, namun persoalan lingkungan juga mengalami peningkatan. Ada yang tidak sinkron di sini. Umat Hindu seperti sibuk melaksanakan ritual, sementara aktivitas industri dan alih fungsi lahan juga sangat tinggi. Ada ketimpangan di sini. Berangkat dari persoalan ini, adik-adik mahasiswa berupaya untuk mempertanyakan kembali peran Hindu dalam konservasi lingkungan. Tidak hanya di tataran konsep saja, melainkan juga aplikasi,” papar dosen yang juga redaktur di Fajar Bali ini.

Narasumber pertama, dari Dinas Lingkungan Hidup Klungkung, AA Ngurah Kirana menyebutkan seluruh pantai di Bali saat ini sudah dicemari sampah plastik. Di samping itu, sebanyak 59% sampah yang ada di Bali tidak bisa ditangani di TPA, sehingga ke 59% sampah ini ada yang dibakar dan dibuang di sungai atau tempat lainnya. Langkah Pemkab Klungkung dalam pengelolaan sampah adalah melakukan pengelolaan sampah organic di rumah tangga masing-masih dan membuang sampah non organic ke TPA. Selain itu, Ngurah Kirana juga menjelaskan pengelolaan sampah organik berbasis kearifan lokal, seperti penyediaan blumbang di Bali.

Narasumber kedua, Dosen Undiksa, Wayan Suja menyebutkan saat ini masyarakat Bali sangat boros energy. Perilaku konsumtif juga menyebabkan kerusakan lingkungan. Bahkan dikatakannya, nasib bumi sama dengan nasib perempuan, sehingga lahir konsep ekofeminisme. “Bagaimana menjaga dan memelihara lingkungan sama dengan menjaga ibu kita sendiri,” harapnya. Dikatakannya, Bali jaman dulu sudah mewariskan kearifan local yang bisa menjawab tantangannya dimasa depan.

Suja juga menjelaskan bahwa hubungan manusia dan lingkungan di Bali dibarat makro dan mikro kosmos. Umat Hindu di Bali mengenal istilah kadi manik ring cecupu – manusia ibarat jani dan alam semesta ini adalah kandungan atau rahim. Ketika rahim mengalami kerusakan, akan berdampak langsung pada keselamatan janin.

Menurut Suja, dalam agama Hindu ajaran tentang pelestarian lingkungan sangat banyak. Bahkan tidak boleh orang buang sampah di air. Namun persoalannya, kesadaran umat untuk konservasi lingkungan baru sebatas omongan saja, belum ada langkah nyata. Apalagi di jaman sekarang, suara perut lebih keras daripada suara hati sehingga manusia kehilangan kesadaran. “Harus ada langkah yang lebih nyata untuk menangani persoalan lingkungan. Ajaran Hindu harus menjadi spirit dalam upaya konservasi lingkungan di Bali. Jangan sampai kita enak saat ini, akan kita kiamat di masa yang akan datang,” tegasnya.

Pembicara ketiga, Ngurah Suryawan antropolog yang juga dosen di Papua, menyebutkan Bali diwariskan begitu banyak kearifan local, yang salah satunya teks-teks sastra. Ngurah Suryawan juga menyebut praktek-praktek ritual keagamaan di Bali, sebagiannya ditujukan untuk menjaga tata ruang Bali dari kehancuran.

Walau demikian menurutnya, umat Hindu di Bali beragama baru sebatas di ortodoksi dan ortopraksi dalam artian sibuk berupacara yadnya, namun pencemaran lingkungan di Bali juga terus terjadi. Menurutnya, ada yang tidak sejalan di sini. Maka dari itu, Suryawan menawarkan sebuah gagasan tentang teologi kontekstual, sehingga nilai-nilai agama yang berhubungan dengan pelestarian lingkungan harus dikontekstualisasi da nada aksi nyata untuk itu. “Jangan selesai di istilah atau konsep, jika tidak dibarengi aksi nyata bahkan kebijakan pembangunan Bali harus pro lingkungan,” paparnya. HM