background

BERITA

Berita Utama


Berita Terbaru

Image
Kamis, 04 Juli 2019
UNHI Diskusikan Peran Hindu dalam Konservasi Lingkungan

SENAT Fakultas Ilmu Agama Seni dan Budaya UNHI Denpasar menggelar seminar nasional bertajuk Peran Hindu Dalam Konservasi Lingkungan,. Seminar ini menghadirkan narasumber Bupati Klungkung yang diwakili Kepala DLH Klungkung, AA Ngurah Kirana, Dosen Kimia Undiksa, I Wayan Suja yang juga penulis buku sains Weda dan Antropolog, Ngurah Suryawan, Rabu (3/7) kemarin di aula Rektorat UNHI. Membuka seminar, Rektor UNHI, Prof. Dr. drh Made Damriyasa, M.S menyebutkan bahwa seminar tentang Peran Hindu dalam Konservasi Lingkungan sangat penting, yang mana nantinya mahasiswa bias mengetahui apa yang harus dilakukan terhadap lingkungan sesuai ajaran agama Hindu. Saya berharap dari seminar ini, mahasiswa memiliki perhatian penting terhadap kondisi lingkungan saat ini, harap Prof. Damriyasa. Ditambahkan, seminar bertajuk lingkungan tersebut sangat sejalan dengan program Gubernur Bali, yang memiliki visi Nangun Sat Kerti Loka Bali. Dikatakan lagi, agar out put dari seminar bisa dijadikan praktik langkah nyata baik sekala dan niskala, mengingat Hindu sendiri telah mewariskan banyak kearifan local dalam hal penyelamatan lingkungan Bali. Moderator seminar I Gusti Agung Paramita, S.Ag, M.Si yang juga dosen Filsafat UNHI, mengawali seminar dengan mengungkapkan bahwa masyarakat Bali secara umum mengalami peningkatan dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan. Menurutnya ritual agama di Bali sangat semarak. Bahkan pengeluaran umat Hindu di Bali khususnya untuk upacara ritual sangat tinggi. Jika ini dijadikan indikator ketaatan umat dalam beragama, tentu sangat baik. Tetapi di balik data ini, ada data lain, misalnya tentang pencemaran pantai dan sungai-sungai di Bali. Tidak hanya itu, alih fungsi lahan capai ratusan hektar. Data terbaru, Bali dianggap akan mengalami krisis air di tahun 2025. Walau aktivitas ritual keagamaan mengalami peningkatan pengeluarannya, namun persoalan lingkungan juga mengalami peningkatan. Ada yang tidak sinkron di sini. Umat Hindu seperti sibuk melaksanakan ritual, sementara aktivitas industri dan alih fungsi lahan juga sangat tinggi. Ada ketimpangan di sini. Berangkat dari persoalan ini, adik-adik mahasiswa berupaya untuk mempertanyakan kembali peran Hindu dalam konservasi lingkungan. Tidak hanya di tataran konsep saja, melainkan juga aplikasi, papar dosen yang juga redaktur di Fajar Bali ini. Narasumber pertama, dari Dinas Lingkungan Hidup Klungkung, AA Ngurah Kirana menyebutkan seluruh pantai di Bali saat ini sudah dicemari sampah plastik. Di samping itu, sebanyak 59% sampah yang ada di Bali tidak bisa ditangani di TPA, sehingga ke 59% sampah ini ada yang dibakar dan dibuang di sungai atau tempat lainnya. Langkah Pemkab Klungkung dalam pengelolaan sampah adalah melakukan pengelolaan sampah organic di rumah tangga masing-masih dan membuang sampah non organic ke TPA. Selain itu, Ngurah Kirana juga menjelaskan pengelolaan sampah organik berbasis kearifan lokal, seperti penyediaan blumbang di Bali. Narasumber kedua, Dosen Undiksa, Wayan Suja menyebutkan saat ini masyarakat Bali sangat boros energy. Perilaku konsumtif juga menyebabkan kerusakan lingkungan. Bahkan dikatakannya, nasib bumi sama dengan nasib perempuan, sehingga lahir konsep ekofeminisme. Bagaimana menjaga dan memelihara lingkungan sama dengan menjaga ibu kita sendiri, harapnya. Dikatakannya, Bali jaman dulu sudah mewariskan kearifan local yang bisa menjawab tantangannya dimasa depan. Suja juga menjelaskan bahwa hubungan manusia dan lingkungan di Bali dibarat makro dan mikro kosmos. Umat Hindu di Bali mengenal istilah kadi manik ring cecupu manusia ibarat jani dan alam semesta ini adalah kandungan atau rahim. Ketika rahim mengalami kerusakan, akan berdampak langsung pada keselamatan janin. Menurut Suja, dalam agama Hindu ajaran tentang pelestarian lingkungan sangat banyak. Bahkan tidak boleh orang buang sampah di air. Namun persoalannya, kesadaran umat untuk konservasi lingkungan baru sebatas omongan saja, belum ada langkah nyata. Apalagi di jaman sekarang, suara perut lebih keras daripada suara hati sehingga manusia kehilangan kesadaran. Harus ada langkah yang lebih nyata untuk menangani persoalan lingkungan. Ajaran Hindu harus menjadi spirit dalam upaya konservasi lingkungan di Bali. Jangan sampai kita enak saat ini, akan kita kiamat di masa yang akan datang, tegasnya. Pembicara ketiga, Ngurah Suryawan antropolog yang juga dosen di Papua, menyebutkan Bali diwariskan begitu banyak kearifan local, yang salah satunya teks-teks sastra. Ngurah Suryawan juga menyebut praktek-praktek ritual keagamaan di Bali, sebagiannya ditujukan untuk menjaga tata ruang Bali dari kehancuran. Walau demikian menurutnya, umat Hindu di Bali beragama baru sebatas di ortodoksi dan ortopraksi dalam artian sibuk berupacara yadnya, namun pencemaran lingkungan di Bali juga terus terjadi. Menurutnya, ada yang tidak sejalan di sini. Maka dari itu, Suryawan menawarkan sebuah gagasan tentang teologi kontekstual, sehingga nilai-nilai agama yang berhubungan dengan pelestarian lingkungan harus dikontekstualisasi da nada aksi nyata untuk itu. Jangan selesai di istilah atau konsep, jika tidak dibarengi aksi nyata bahkan kebijakan pembangunan Bali harus pro lingkungan, paparnya. HM

Image
Senin, 10 Juni 2019
Pascasarjana UNHI Pengabdian Masyarakat di Penglipuran

PASCASARJANA Universitas Hindu Indonesia melaksanakan Pengabdian Masyarakat di Desa Penglipuran Kabupaten Bangli pada Minggu (2/6/2019). Acara pengabdian dilaksanakan oleh dosen dan mahasiswa Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia. Dalam pengabdian tersebut, sebanyak 85 orang peserta ikut serta. Bentuk pengabdian masyarakat yakni penyerahan bantuan bibit kelapa untuk upacara agama misalnya Nyuh Rangda, Nyuh Mulung, dan yang lainnya. Tidak hanya itu saja, Pascasarjana UNHI juga memberikan bantuan berupa pengobatan komplementer kepada lansia dan memberikan Dharmatula Keagamaan. Direktur Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia Prof. Dr. I Wayan Suka Yasa, M.Si menyampaikan bahwa pengabdian masyarakat yang dilaksanakan Pascasarjana Unhi merupakan bentuk implementasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pascasarjana Unhi memberikan bantuan bibit kepala untuk upacara keagamaan sekaligus memberikan bantuan pengobatan komplementer. Kami melibatkan dosen dan mahasiswa untuk ikut serta dalam pengabdian masyarakat. Selain memberi bibit dan pengobatan, kami juga memberikan Dharmatula Keagamaan, paparnya. Pengabdian masyarakat yang dilakukan Pascasarjana Unhi mendapat respon yang positif dari masyarakat. Banyak masyarakat khususnya lansia yang ikut dalam pengobatan komplementer. Begitu juga mendengarkan Dharmatula keagamaan. HM

Image
Selasa, 30 April 2019
Bedah Buku "Shastra Wangsa", UNHI datangkan Stafsus Kepresidenan

UNIVERSITAS Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar kembali menggelar bedah Buku "Shastra Wangsa" Kamus Istilah Wangsa Bali karya akademisi Ida Bagus Made (IBM) Dharma Palguna, Selasa (30/4) lalu. Kegiatan Ilmiah bedah buku ini merupakan kali kedua dilakukan Unhi Denpasar atas prakarsa Yayasan Pendidikan Widya Kerthi sebagai penyelenggara pendidikan Unhi Denpasar. Kegiatan bedah buku "Shastra Wangsa" ini menghadirkan Staf Khusus Kepresidenan RI, Dr. Anak Agung Gede Ngurah Ari Dwipayana sebagai narasumber dan 2 pembicara, yaitu Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum., dan Dr. Drs. I Gusti Putu Bagus Suka Arjawa, M.Si. Ketua Panitia, I Kadek Satria, S.Ag.,M.Pd.H., menjelaskan kegiatan bedah buku ini kembali dilakukan karena sangat penting untuk mandalami karya "Shastra Wangsa" yang melibatkan seluruh stakeholders terkait. Sebab, dengan melibatkan stakeholder dari Shastra Wangsa, maka hasil dari karya buku "Shastra Wangsa" akan lebih tepat. Sehingga, isi buku "Shastra Wangsa" dapat disebarluaskan untuk memberi pencerahan kepada masyarakat agar melek identitas tentang wangsa yang sebenarnya adalah sastra. "Jadi kami undang Penglingsir Puri, Sulinggih, Parisada, Kementerian Agama, Lembaga Agama dan Lembaga Keagamaan agar buku ini menjadi sebuah pesan bahwa wangsa sesungguhnya adalah sastra. Kita hidup dari sastra, segala bentuk perilaku kita adalah sastra, maka wangsa yang sesungguhnya adalah sastra, bukan wangsa yang ada dalam soroh yang justru akan membuat perpecahan,"tandas Kadek Satria, Selasa (30/4) lalu. Ketua Dewan Pengurus Yayasan Pendidikan Widya Kerthi, Prof. Dr. Phil. I Ketut Ardhana, MA., didampingi Sekretaris Yayasan, Kol. (Purn) Dr. Drs. Dewa Ketut Budiana, M.Fil.H., mengatakan makna yang terkandung dalam karya "Shastra Wangsa" memberikan sesuatu pemahaman kepada generasi muda, terkait sistem sosial budaya yang ada di Bali. Sebab, secara kerangka teori pada era milenial ini, penjelasan tentang nilai luhur tidak cukup dengan istilah "anak mula keto". Oleh karena itu, pemahaman tentang wangsa cukup penting untuk memperkuat jati diri generasi penerus Bali, sehingga dapat berkontribusi terhadap pembangunan bangsa dan negara. "Pemahaman terhadap wangsa sangat penting, kalau generasi muda Bali sudah tahu pola panutannya, maka mereka tidak ragu lagi menjadi orang Bali yang memberi kontribusi dalam konteks pembangunan yang berhubungan bangsa dan negara,"ujar Prof. Ardhana. Dengan pemahaman tentang sistem sosial dan budaya, dikatakan para generasi akan memahami esensi sosial yang akan bermuara pada pelaksanaan teori yang sederhana tanpa mengurangi hakekat yang terkandung. Sebagai Ketua Yayasan, pihaknya akan terus memberi ruang terhadap kegiatan bedah buku di Unhi Denpasar tentang naskah-naskah akademik lainnya. "Kami punya program akademik, yang diselenggarakan universitas, bisa saja, jika masyarakat punya karya naskah akademik, kami siap bedah disini dengan mengundang tokoh dan stakeholder terkait,"pungkasnya. HM

Image
Rabu, 20 Maret 2019
Tim UNHI Ngaturang Ayah di Puncak Karya Panca Wali Krama

Universitas Hindu Indonesia mengerahkan dosen dan mahasiswa untuk ngaturang ayah dalam bentuk kesenian di Puncak Karya Agung Panca Wali Krama Rabu (20/3) kemarin. Ini salah satu bentuk komitmen UNHI untuk terus berupaya berkontribusi dalam hal pelestarian agama, adat, seni dan budaya Bali. Rektor UNHI Denpasar, Prof. Dr. drh. I Made Damriyasa, M.S mengatakan, selama ini UNHI Denpasar sudah sering melakukan kegiatan ayah-ayah seperti ini setiap karya di Pura Besakih. Kata Prof. Damriyasa, tidak hanya di Besakih saja, tapi keluarga besar UNHI juga rutin ngaturang ngayah seperti ini di pura-pura besar yang lainnya yang ada di Bali. Karena sudah menjadi kewajiban UNHI untuk melakukan kegiatan ngayah seperti ini. Kegiatan ini sebagai wujud aktualisasi dari sebagai fungsi UNHI. Dimana, UNHI adalah salah satu universitas yang tidak hanya bergerak di bidang sains dan teknologi saja, akan tetapi bagaimana peran UNHI dalam melestarikan seni adat dan budaya Bali,"ujarnya. Prof. Damriyasa menambahkan, UNHI memiliki beberapa program studi yang terkait dengan bidang seni dan budaya, seperti Prodi Seni Tari Keagamaan, Prodi Karawitan, Prodi Seni Rupa dan Ornamen Keagamaan. "Jadi inilah wujud nyata kami terkait Karya Agung Panca Wali Krama dan Ida Batara Turun Kabeh ngaturang ayah-ayah berupa tabuh, topeng, rejang renteng sekarang ini saat puncak karya. Karena apa yang kita tampilkan ini sesuai dengan kompetensi yang dimiliki di UNHI," papar Rektor tamatan Jerman ini. Lebih lanjut dikatakannya, untuk kedepannya pihaknya akan terus secara berkesinambungan melakukan kegiatan ayah-ayah ini di setiap upacara di pura-pura besar yang ada di Bali. Melalui kegiatan ngayah dalam bentuk kesenian ini diharapkan bisa menarik generasi muda Bali agar ikut melestarikan seni adat dan budaya Bali. "Jadi UNHI punya komitmen untuk menjaga seni, adat, dan budaya Bali. Semoga generasi muda banyak yang berminat di bidang itu," tutupnya. HM

Image
Minggu, 17 Maret 2019
Paiketan-UNHI Garap Lomba Arjuna Digital 2019

Lomba Arjuna Digital 2019 yang dihelat oleh Paiketan Krama Bali bakal kembali digelar. Berbekal sukses menggelar Lomba Arjuna Digital 2018 lalu, tahun ini Paiketan bekerjasama dengan Universitas Hindu Indonesia (UNHI) segera menggelar Lomba Arjuna Digital 2019. Kesepakatan kerjasama dituangkan di dalam MoU yang ditandatangani oleh Ketua Umum Paiketan, Ir. Agung Suryawan Wiranatha, M.Sc, Ph.D dan Rektor UNHI, Prof. Dr. I Made Damriyasa, Kamis, 14 Maret 2019 bertempat di Universitas Hindu Indonesia, Denpasar. Kami Paiketan Krama Bali dan Universitas Hindu Indonesia (UNHI) menyatakan sepakat untuk bekerjasama dalam kegiatan Lomba Arjuna Digital 2019 kata Agung Suryawan sebelum presentasi tentang Lomba Arjuna Digital kepada tim UNHI. Kata Agung Suryawan, melalui Kesepakatan Kerjasama itu, pihaknya selaku Ketua Umum Paiketan Krama Bali memberikan kepercayaan penuh kepada UNHI sebagai Panitia Penyelenggara Lomba Arjuna Digital 2019. Agung Suryawan berharap, melalui bekerjasama dengan UNHI, gema Lomba Arjuna Digital akan semakin luas menyasar generasi muda mulai dari SMP hingga mahasiswa berbagai perguruan tinggi serta pemuda-pemudi Hindu. Rektor UNHI, Prof. Dr. I Made Damriyasa didampingi oleh tim UNHI seperti W.A.Sindhu Gitananda, I Gusti Agung Paramita, I Putu Darmawan, I Putu Arsa Aryawan menerima kepercayaan tersebut untuk mengambil peran mendorong kemajuan dan kejayaan Hindu kedepan. Prof. Damriyasa menegaskan, Lomba Arjuna Digital sejalan dengan visi dan missi UNHI. Beliau berterima kasih karena UNHI mendapat kepercayaan dari Paiketan Krama Bali untuk menyelenggarakan Lomba Arjuna Digital. Ini adalah sebuah kepercayaan kepada UNHI sekaligus menjadi media promosi bagi UNHI agar umat Hindu semakin banyak mau kuliah di UNHI sebagai kampus milik umat Hindu papar Damriyasa. Ketua Departemen Litbang dan Information Technology Paiketan Krama Bali, I Putu Sudiarta didepan rektor UNHI dan timnya mempresentasikan hasil-hasil Lomba Arjuna Digital 2018 berupa video-video hasil karya para peserta untuk memberikan gambaran kepada tim UNHI betapa pentingnya menginspirasi mahasiswa dan generasi muda Hindu agar bangga menjadi umat Hindu. Putu berharap, tim UNHI akan mampu menjaring peserta lebih banyak dengan pendampingan dari Paiketan Krama Bali. Ketua Departemen Agama Paiketan Krama Bali, Dr. Ni Kadek Surpi, S.Pt, M.Fil.H meminta agar penggunaan istilah dharma wacana tidak dikaburkan dengan dengan film pendek (YouTube Channel) yang belakangan mulai digemari masyarakat melalui media sosial. Steering Committee Paiketan Krama Bali agar memfixed-kan konten-konten filmnya sebelum dilombakan ujar Kadek Surpi, Ia juga berharap panitia agar menggarap acara seremonial lebih rapi. Menurut Kadek Surpi, Lomba Arjuna Digital adalah salah satu ajang edukasi bagi generasi muda Hindu dalam berorganisasi dan pemahaman tentang konten-konten ajaran Hindu sesuai selera kaum milenial. HM

Image
Selasa, 26 Februari 2019
Datangkan ASAFAS Kyoto University, Unhi Gelar Workshop Internasional

BERKOLABORASI dengan Asian and African Area Studies (ASAFAS), Kyoto University, Jepang, Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar menggelar Seminar Internasional dengan tema "Comparative Studi On Religious Practice, Popular Culture, Relatives and Social Groups In Hindu Sphere" di Ruang Sidang Rektorat Unhi Denpasar, Senin (25/2). Seminar Internasional "Studi Banding tentang Praktek Agama, Budaya Populer, Kerabat dan Kelompok Sosial di Lingkup Hindu" ini menghadirkan sejumlah keynote speaker. Diantaranya Ketua Dewan Pengurus Yayasan Pendidikan Widya Kerthi, Prof. Dr. Phil. I Ketut Ardhana, MA., Dr. I Nyoman Wardi, MA. (Universitas Udayana), W.A. Sindhu Gitananda (Unhi Denpasar), Prof. Dr. Yekti Maunati (P2SDR-LIPI, Jakarta), Seiko Tsuruta (Global Area Studies, ASAFAS, Kyoto University), Made Adi Widyatmika, ST.,MSi. (Unhi Denpasar), Mai Kato (Southeast Asian Area Studies, ASAFAS, Kyoto University), Dr. Kaoru Nishijima (Kyoto University), Dr. Dundin Zaenuddin, MA. (Indonesian Institute of Sciences, LIPI-Jakarta), dan Mari Adachi (Global Area Studies, ASAFAS, Kyoto University). Ketua Panitia, Prof. Dr. Phil. I Ketut Ardhana, MA., bersama Mari Adachi, Seiko Tsuruta (Global Area Studies, ASAFAS, Kyoto University), mengatakan masyarakat Indonesia adalah masyarakat multikultural yang dapat ditelusuri kembali melalui sejarah Indonesia dan proses migrasi. Karena merupakan masyarakat multikultural, umat Islam, yang merupakan mayoritas dalam hal agama, memprioritaskan kerukunan dan keseimbangan di antara orang Indonesia. Dalam nada yang sama, orang Bali yang sebagian besar adalah orang Hindu, juga memiliki kelompok etnis sebagai akibat dari peningkatan pengembangan industri pariwisata yang telah dipromosikan oleh pemerintah untuk waktu yang lama. Sebagai dampak positif, kebijakan pengembangan industri pariwisata telah mengarah pada peningkatan kesejahteraan bagi orang Bali lokal. Dengan meningkatnya kemakmuran orang-orang yang tinggal di Bali, maka banyak tempat tinggal baru telah dibuka, seperti di daerah dekat tujuan wisata, termasuk Legian, Seminyak, dan tempat-tempat lain di dekatnya. Hal ini tentu mempengaruhi gaya hidup mereka yang tinggal di daerah ini. Meskipun Bali telah banyak dipengaruhi oleh budaya asing, namun budaya dan tradisi lokal masih ada. "Pendatang baru harus memahami dan menghargai budaya lokal Bai yang dikenal sebagai Ajeg Bali. Untuk melestarikan Ajeg Bali, Bali perlu berusaha menghindari dampak negatif yang dapat merusak budayanya. Melalui seminar inilah kita ingin membedah permasalahan krusial yang terjadi di Bali saat ini. Sehingga konsep tentang bagaimana Ajeg Bali harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dengan kelompok etnis dan agama lain, perlu dipertahankan dan dilestarikan dengan cara yang terorganisir dengan baik,"tandas Prof. Ardhana, Senin (25/2) kemarin. Rektor Unhi Denpasar, Prof. Dr. drh. I Made Damriyasa, MS., mengatakan sebagai universitas yang memiliki visi sebagai pusat pengembangan dan kajian budaya Hindu di tingkat regional, Unhi Denpasar berkomitmen untuk terus memajukan budaya sesuai dengan perkembangan zaman yang tidak lepas dari taksu budaya Bali. Oleh karena itu, sebagai pimpinan Unhi Denpasar, pihaknya akan terus menjalin kerjasama dalam bidang Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan berbagai perguruan tinggi internasional. Bahkan, Unhi Denpasar membuka diri kepada universitas internasional yang ingin belajar tentang budaya Hindu. Hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk mencapai visi Unhi Denpasar dan sebagai upaya pengembangan dan kemajuan budaya Bali dan budaya Indonesia pada umumnya. "Kami Unhi Denpasar satu-satunya Universitas berbasis budaya Hindu. Sehingga, banyak Universitas luar negeri, termasuk Kyoto University Jepang ingin belajar banyak tentang budaya Hindu di kampus kami. Sebab, Budaya Hindu Bali sangat kaya akan nilai-nilai, baik bidang kesehatan, bidang politik dan demokrasi dan sebagainya yang menjadi dasar untuk tata kehidupan,"tandas Prof. Damriyasa. Seminar Internasional ini diharapkan dapat membangun dan memunculkan ide-ide baru untuk pengembangan budaya secara masif sesuai dengan perkambangan zaman, tanpa meninggalkan roh dari budaya masing-masing. HM